SEJARAH AQIQAH Yang Perlu Anda Tahu

SEJARAH AQIQAH, Tradisi Menyembelih Hewan Pada Masa Jahiliyyah

Sejarah Aqiqah – Sebelum islam datang, masyarakat arab dikenal senang menyembelih hewan seperti kambing atau domba untuk berbagai perayaan. Tradisi menyembelih hewan berkaitan dengan pemujaan atau ekspresi suka cita atas peristiwa tertentu yang mereka anggap bermakna, bernilai dan penting.

Sejarah Aqiqah

Seperti pemotongan hewan ketika memasuki bulan rajab atau yang dikenal dengan rajabiyah. Mereka kemudian akan memakan daging sembelihan tersebut bersama-sama keluarga maupun tetangga. Masyarakat arab kala itu juga  menyembelih hewan kambing atau domba yang lahir pertama atau yang disebut atirah.

Sedangkan aqiqah adalah menyembelih hewan ketika seorang bayi laki-laki lahir. Kala itu sebelum islam hadir, masyarakat arab lebih senang dengan kehadiran anak laki-laki sehingga mereka merasa perlu merayakan kelahiran anak laki-laki dengan cara memotong kambing. Dalam tradisinya mereka akan memotong rambut bayi dan kepalanya dilumuri darah hewan sembelihan. Tradisi ini kemudian berubah, tidak lagi dilumuri darah hewan melainkan dengan air bunga kuma-kuma atau pacar dan minyak wangi.

Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban disebutkan pada saat sebelum hadirnya islam, tradisi aqiqah kepala anak laki-laki diusap dengan kapas yang telah dilumuri darah kambing dengan tujuan agar anak diberkahi. Namun saat islam hadir Nabi Muhammad SAW menyerukan untuk mengganti darah dengan minyak wangi.

Dengan kata lain tradisi aqiqah sudah dilakukan orang arab sebelum hadirnya islam. Kehadiran islam sedikit banyak merubah makna dan tata cara aqiqah. Islam menyerukan bahwa aqiqah bertujuan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak. Selain itu dalam aqiqah ada makna sosial berupa silaturahmi karena dalam tradisi aqiqah ada kumpul keluarga da nada pembagian makanan untuk yang membutuhkan. Dengan begitu ada kebahagiaan yang kita tebar ketika membagikan makanan untuk mereka yang membutuhkan, serta kebahagiaan berkumpul dengan keluarga dan tetangga.

Tradisi Aqiqah Setelah Datangnya Islam

Aqiqah merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama sebelum hadirnya islam dan setelah hadirnya islam aqiqah disempurnakan baik dari segi makna, tata cara,dsb. Seperti tradisi aqiqah jaman sebelum kehadiran islam, aqiqah hanya dilakukan untuk kelahiran bayi laki-laki karena jaman jahiliyah dulu masyarakat arab lebih gembira dengan hadirnya anak laki-laki ketimbang perempuan sehingga mereka merasa perlu membuat acara penyembelihan hewan sebagai ekspresi kegembiraan, namun semenjak hadirnya islam aqiqah berlaku untuk kelahiran bayi perempuan juga. Karena dalam islam baik bayi laki-laki maupun perempuan tidak ada bedanya. Keduanya sama baiknya dan merupakan karunia Allah SWT bagi orangtua.

Tradisi ini biasa dilakukan pada hari ke tujuh kelahiran bayi, ke empat belas atau dua puluh satu. Namun ini bukan berarti aqiqah mutlak harus dilakukan pada hari-hari tersebut. Aqiqah boleh dilakukan kapan saja tergantung kesiapan orangtua, baik dari segi finansial maupun waktu. Daging sembelihan aqiqah kemudian dibagikan pada fakir miskin seperti pada idul qurban dan dimakan juga bersama keluarga maupun tetangga. Tradisi aqiqah adalah mencukur rambut bayi dan memberikan nama terbaik untuk sang bayi.

Dalam catatan sejarah Rasulullah SAW pernah menggelar aqiqah untuk cucunya Hasan dan Husein, anak dari Fatimah. Masing-masing satu ekor kambing yang disembelih. Selanjutnya apa yang dilakukan Rasulullah SAW diikuti oleh para sahabat, tabiit, tabiin hingga generasi kita sekarang.

Hukum Aqiqah

Meski masih ada perdebatan tentang hukum aqiqah, ada yang mewajibkan namun ada pula yang mengatakan sunnah. Akan tetapi jumhur atau mayoritas  ulama menyebutkan aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, begitulah pendapat Imam Malik, Imam Syafii serta para pengikutnya, Imam Ahmad bin Hanbal, dll. Pendapat itu berdasarkan hadis nabi yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai yang mengatakan bahwa barang siapa yang ingin bersedekah untuk anaknya maka diperbolehkan.

Kesimpulan

Aqiqah merupakan tradisi yang sudah dilakukan sejak jaman jahiliyyah jauh sebelum islam hadir. Mereka menyembelih kambing untuk menyambut kehadiran bayi laki-laki sebagai ekspresi kebahagiaan. Sebab jaman jahiliyyah orang arab lebih senang memiliki anak laki-laki daripada perempuan. Selain itu tradisi aqiqah saat itu jauh dari syariat islam. Mereka akan membalur kepala bayi dengan darah hewan sembelihan untuk keberkahan sang bayi.

Kehadiran islam dan Rasulullah SAW memberikan secercah cahaya dan merubah tradisi aqiqah jaman jahiliyah menjadi sesuai dengan syariat islam. Aqiqah pada jaman islam dilakukan tidak hanya untuk bayi laki-laki, tetapi juga untuk kelahiran bayi perempuan. Dalam islam anak laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Keduanya anugerah Allah SWT bagi orangtua.

Tradisi membalurkan darah ke kepala bayi juga dihilangkan dan diganti dengan minyak wangi. Dan aqiqah boleh dilakukan kapan saja semampu orangtuanya dan kesiapan orangtua. Meski diutamakan dilakukan pada hari ketujuh, empat belas atau dua puluh satu. Tradisi aqiqah dalam islam adalah mencukur rambut bayi dan memberikan nama terbaik.

Baca Juga : Paket Aqiqah Jakarta Murah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
1
Assalamu Alaikum
Ada Yang Bisa Kami Bantu?
Powered by